Rabu, 08 Februari 2012

KISAH TELADAN


JUBAH BERHIASKAN 21 TAMBALAN
          Pada hari jum`at, di masjid nabawi para jama’ah  Shalat Jum’at dengan perasaan gelisah, menunggu Umar Bin Khaththab, Amirul-Mu’minin, yang akan memberikan khutbah Jum’at. Hari semakin siang, tetapi Umar bin Khaththab belum juga tampak. Setelah ditunggu agak lama, muncullah Umar bin Khaththab dengan tergepoh-gepoh dengan pakaian yang masih Nampak basah.
          Setelah naik kemimbar, beliau meminta maaf dengan mengatakan penyebab keterlambatannya, karena harus menunggu pakaiannya kering yang habis dicuci. Sebab, beliau tidak punya pakaian yang lain. Karena takut jama’ah menunggu lama beliau beliau kenakan pakaian yang masih agak basah. Subhanallah! Seorang penguasa besar, yang Romawi dan Persia saja dalam genggamannya harus meminta maaf pada rakyatnya, hanya karena terlambat, dan itupun bukan karena disengaja.
          Terlebih lagi, alas an keterlambatanya karena menunggu pakaian yang belum kering, karena tidak mempunyai pakaian yang lain. Yang masih membuat kita tercengang, baju atau jubbah yang beliau kenakan ternyata sudah tertambal lebih dari 21 jahitan. Lalu kemana harta yang banyak lalu begitu luas itu ? sampai-sampai pemimpin tidak mempunyai baju yang mewah.
          Itulah Umar bin Khaththab, seorang pemimpin yang bersahaja walau banyak ahli sejarah mengatakan, seandainya saja Umar bin Khaththab ingin hidupnya seperti kaisar-kaisar Romawi atau raja-raja Persia, niscaya bias dilakukan, bahkan lebih dari mereka. Tapi Umar bin Khaththab bukanlah orang yang serakah akan dunia, hidupnya beliau abdikan untuk kejayaan islam dan kesejahteraan rakyatnya.


DARI = BUKU TARIKH